Tampilkan postingan dengan label Ekonomi. Tampilkan semua postingan


JAKARTA – Mewabahnya virus corona atau Covid-19 telah merontokkan pasar saham dalam negeri. Investor pun mulai melirik sektor properti yang dianggap bisa meraup untuk besar dari sektor tersebut di tahun 2020.
Direktur PT Pancakarya Griyatama selaku pengembang apartemen Skandinavia mengatakan, investor properti menjadi pilihan menarik bagi investor saat ini.
selain itu, lanjut dia, investasi emas juga menawarkan keuntungan yang tinggi. Sementara itu, memang sektor properti beberapa tahun belakangn ini mengalami tekanan namun di tahun 2020 akan membaik.
“Teman-teman (pengembang) cerita banyak orang uangnya keluar dari reksadana dan coba masuk ke properti,” ujar dia, kemarin (29/2).
Menurut dia, sektor properti memiliki peluang lantaran dampak kasus di sejumlah industri keuangan seperti Asuransi Jiwasraya yang mengakibatkan turunnya kepercayaan publik.
Berkaca dari kasus 2008-2009, kata dia, di mana terjadi krisis global. Kondisi demikian, Indonesia salah satu negara uang diuntungkan. Nah, oleh karena itu, investor memanfaatkan kondisi saat ini untuk beralih ke sektor properti.
Namun kejayaan industri properti ketika itu tidak bertahan lama, yakni hanya empat tahun saja. Sektor properti mulai stagnasi sejak 2014 hingga saat ini.
“Saya punya optimisme dalam hati kecil saya bahwa 2021 akan jadi titik bangkit (industri properti) karena tahun ini sudah akumulasi,” tutur dia.
Saat ini, kata dia, tinggal menunggu momentum yang tepat bagi investor agar dapat melihat bahwa investasi properti merupakan opsi yang aman dan menarik untuk berinvestasi dalam jangka panjang.
Sementara itu, Pengamat Bisnis Properti, Panangian Simanungkalit menilai, dukungan dari pemerintah terhadap investor asing khusus sektor properti masih kurang optimal.
Menurut dia, berbeda dengan negara tetangga, Singapura, Malaysia, dan Hongkong yang mendorong pengembang asing untuk ikut menggeliatkan sektor properti di negaranya masing-masing.
“Makanya jangan heran kalau beberapa pengembang besar Indonesia banyak menjadi key players di sektor properti negara-negara tersebut,” kata dia.
Meski begitu, tak sedikit pengembang asing yang bermain di sektor properti dengan joint venture di Indonesia. Namun, hal itu bukan karena kemudahan yang diberikan pemerintah. Akan tetapi, adanya skema joint venture dengan porsi 75 persen bagi investor asing.
“Berbisnis industri properti di Indonesia da tiga negara, yaitu Jepang, Singapura, dan Cina,” ucap dia.
Direktur Eksekutif Indonesia Properti Watch (IPW) Ali Tranghanda memperkirakan, pasar properti akan meningkat cepat. Hal ini didorong masifnya pembangunan infrastruktur serta sejumlah faktor stimulus lainnya. Antara lain, Bank Bank Dunia memprediksi pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) sebesar 5,1 persen, stabilitas laju inflasi di kisaran 3 persen, serta cuku bunga acuan 5 persen.
“Sektor properti akan naik. Indikasi ini sudah jelas,” kata dia.
Seperti diketahui, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), pada pekan lalu, melanjutkan laju negatif. IHSG melemah 223 poin (4,03 persen) ke level 5.311. Sedangkan indeks LQ45 turun 41 poin (4,6 persen) ke level Pelemahan ini disebabkan kekhawatiran investor terhadap penyebaran virus corona yang belum bisa diselesaikan penyebarannya yang semakin meluas.(din/fin)

TEMANGGUNG – Sejak dua pekan terakhir harga gula pasir disejumlah warung kelontong di Pasar Kliwon Rejo Amertani Temanggung terus mengalami kenaikan, saat ini harga gula pasir ditingkat pengecer tembus Rp15.000 per kilogram.
Tidak hanya gula pasir saja, harga gula aren juga mengalami kenaikan yang cukup signifikan, harga kebutuhan pokok asal lokal Temanggung ini, saat ini ditawarkan dengan harga Rp22.000 perkilogram. Padahal sekitar dua pekan lalu harganya hanya berkisar diantara Rp16.000 hingga Rp17.000 per kilogram.
“Harganya terus mengalami kenaikan sejak dua pekan lalu,” kata Suprapti (50) salah satu pedagang di pasar setempat senin kemarin.
Menurutnya, secara bertahap harga gula pasir terus mengalami kenaikan, mulai dari semula Rp12.000 perkilogram, naik menjadi Rp13.000 perkilogram, naik lagi ke harga Rp14.000 per kilogram. Lalu secara berturut-turut naik ke harga Rp15.000 per kilogram.
“Memang harganya naik terus, jadi sekarang saya jual Rp22.000 perkilogram, gula pasir saya jual dengan harga Rp16.000 sejak dua hari lalu,” ujar Suprapti, Selasa (17/5).
Selain gula pasir, gula aren juga mengalami kenaikan dari semula di kisaran Rp13.000 per kilogram, menjadi Rp 22.000 perkilogram di tingkat eceran saat ini.
“Kenaikan harga gula aren ini juga bertahap, setiap hari naiknya antara Rp500 hingga Rp1.000 perkilogram,” terangnya.
Selain harga gula, menurutnya, harga komoditas lainnya seperti minyak goreng curah bertahan diharga Rp12.000 perkilogram, sejak pekan lalu mengalami kenaikan Rp1.000 perkilogram. Adapun beras kualitas medium masih bertahan Rp10.000-12.000 perkilogram untuk kualitas medium.
“Rata-rata bahan pokok mengalami kenaikan, kemungkinan karena akan menjelang bulan Ramadhan ini,” terangnya.
Sujud (50), seorang pedagang di Pasar Kliwon Temanggung lainnya, mengatakan, dirinya telah menerima kabar dari distributor bahwa harga gula pasir akan mengalami penurunan. Namun hingga saat ini harga gula masih belum turun juga. Sujud masih menjual gula pasir untuk pembelian partai besar dengan harga Rp14.000 perkilogram.
“Untuk eceran memang harganya lebih mahal,” katanya.
Ia mengatakan, setiap hari mendapat pasokakn sebanyak delapan kuintal hingga satu ton gula pasir. Pasokan tersebut dalam sehari bisa langsung habis terjual.
“Pasokan dari distributor lancar, namun karena kebutuhan gula cukup tinggi maka pasokan selalu habis lebih cepat,” tuturnya. (Set)
Diberdayakan oleh Blogger.